Laporan Pemeriksaan Usap Alat Makan




Mata Kuliah    : Penyehatan Makanan dan Minuman-A
Dosen           : Khiki Purnawati Kasim, SST., M.Kes


“Laporan Usap Alat Makan”


 

IRMAYANTI FAISAL
PO. 71.4.221.15.1.019
II.A / D.IV



KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D.IV
2016/2017






A.    DASAR TEORI
Makanan merupakan segala sesuatu yang dapat dimakan yang biasanya berasal dari tanaman, hewan, dan nutrisi penting seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Makanan juga merupakan sumber energi satu-satunya bagi manusia. Karena jumlah penduduk yang terus berkembang, maka jumlah produksi makananpun harus terus bertambah melebihi jumlah penduduk ini, apabila kecukupan pangan harus tercapai. Permasalahan yang timbul dapat diakibatkan kualitas dan kuantitas bahan pangan. Hal ini tidak boleh terjadi atau tidak dikehendaki karena orang makan itu sebetulnya bermaksud mendapatkan energi tetap dapat bertahan hidup, dan tidak untuk menjadi sakit karenanya. Dengan demikian sanitasi makanan menjadi sangat penting (Slamet, 2009).
Sanitasi makanan adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk kebersihan dan keamanan makanan agar tidak menimbulkan bahaya keracunan dan penyakit pada manusia. Upaya pengamanan makanan dan minuman pada dasarnya meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan pengolahan makan, dan proses pengolahannya.
Peralatan makan merupakan peralatan yang digunakan untuk menyediakan makanan. Peranan perlatan makan dalam higiene sanitasi makanan sangat penting karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prinsip-prinsip hygiene sanitasi makanan. Oleh karena itu, peranan pembersihan atau pencucian peralatan perlu diketahui secara mendasar dengan membersihkan peralatan secara baik, akan menghasilkan alat pengolahan makanan yang bersih dan sehat. Peralatan makan meliputi piring, gelas, mangkuk, cangkir, sendok, pisau, dan garpu (Depkes, 2004).
Adapun persyaratan peralatan makanan, yaitu (Pohan, 2009) :
1.    Peralatan yang kontak langsung dengan makanan tidak boleh mengeluarkan zat beracun yang melebihi ambang batas sehingga membahayakan kesehatan.
2.    Peralatan tidak rusak, retak dan tidak menimbulkan pencemaran terhadap makanan.
3.    Permukaan yang kontak langsung dengan makanan harus tidak ada sudut mati, rata halus dan mudah dibersihkan.
4.    Peralatan harus dalam keadaan bersih sebelum digunakan.
5.    Peralatan yang kontak langsung dengan makanan yang siap disajikan tidak boleh mengandung angka kuman yang melebihi ambang batas, dan tidak boleh mengandung E.coli.
6.    Cara pencucian peralatan harus memenuhi ketentuan.
7.    Peralatan yang sudah didesinfeksi harus ditiriskan pada rak-rak anti karat sampai kering sendiri dengan bantuan sinar matahari atau buatan dan tidak boleh di lap dengan kain.
8.    Semua peralatan yang kontak dengan makanan harus disimpan dalam keadaan kering dan bersih, ruang penyimpanan peralatan tidak lembab, terlindung dari sumber pengotoran/kontaminasi dan binatang perusak.

B.     TUJUAN PRAKTIKUM
1.      Untuk mengetahui cara pengambilan contoh usap alat makan.
2.      Untuk mengetahui tingkat kebersihan dari alat makan.
3.      Agar dapat memantapkan petugas dalam melakukan pengawasan.
4.      Memberikan data untuk feed back (umpan balik) kepada pengusaha.

C.    METODE PRAKTIKUM
Metode praktikum yaitu metode swab yang dilakukan dengan mengusap alat makan menggunakan lidi kapas steril.

D.    ALAT DAN BAHAN
1.      Alat
Media transport cairan Buffer dalam botol. Media transport berisi cairan ½ - ¾ botol dalam keadaan steril
·       Kapas lidi steril (lidi water), yaitu lidi yang pada ujungnya dilipat kapas
·       Sarung tangan steril/bersih
·       Spidol huruf kecil
·       Formulir pengambilan untuk pemeriksaan laboratorium
·       Gunting kecil
·       Kertas cellotape
·       Lampu spritus
·       Termos es
·       Tas pembawa contoh
·       Buku harian pembawa contoh
·       Sabun desinfektan
2.      Bahan
·      Air pepton
·      Larutan pengencer NaCl 0,85 %
·      Medium Nutrien Agar
·      Alkohol
·      Kapas
·      Kertas label

E.     TEKNIK PENGAMBILAN

Untuk mendapatkan angka yang dapat mewakili dari seluruh alat yang diperiksa, maka perlu pemeriksaan dari sejumlah sampel yang dapat mewakili keseluruhan.
1.      Persiapkan sarung tangan yang steril untuk memulai mengambil sampel
2.      Alat makan/masak yang akan di periksa masing-masing di ambil 4-5 buah tiap jenis yang diambil secara acak dari tempat penyimpanan
3.      Persiapkan catatan formulir pemeriksaan dengan membagi alat makanan / masak dalam kelompok-kelompok
4.      Persiapkan lidi steril, kemudian buka tutup botol dan masukkan lidi kapas steril ke dalamnya
5.      Lidi kapas steril dalam botol ditekan ke dinding botol untuk membuang airnya, baru diangkat dan diusapkan pada setiap alat-alat yang di usapkan sampai satu kelompok selesai di usap.
6.      Permukaan tempat alat/perabot yang di usap yaitu:
·      Cangkir dan gelas        : Permukaan luar dan dalam bagian bibir
 setinggi 6 mm.
·      Sendok                                    : Permukaan bagian luar dan dalam seluruh
 mangkuk sendok
·      Garpu                          : Permukaan bagian luar dan dalam alat
 penusuk
·      Piring                           : Permukaan dalam tempat makanan
 diletakkan.

7.      Cara melakukan usapan :
-        Pada cangkir dan gelas dengan usapan mengelilingi bidang permukaan.
-        Pada sendok dan garpu dengan usapan seluruh permukaan luar dan dalam.
-        Pada piring dengan 2 usapan pada permukaan tempat makanan dengan menyilang siku-siku antara usapan yang satu dengan garis usapan kedua.
8.      Setiap bidang permukaan yang diusap dilakukan 3 kali berturut-turut, dan satu lidi kapas digunakan untuk satu kelompok alat makan yang diperiksa.
9.      Pada peralatan masak, setiap usapan seluas 8 inchi persegi atau 50 cm2 dilakukan 3 kali berturut-turut dianggap satu kelompok setelah dilakukan luas permukaan sebanyak 5 kali 8 inchi persegi.
10.  Setiap hasil mengusap 1 alat dari satu kelompok selalu dimasukkan ke dalam botol cairan diputar-putar dan ditekan ke dinding, demikian dilakukan berulang-ulang sampai semua kelompok diambil usapnya.
11.  Pada usapan peralatan makan setiap usapan alat harus mencapai luas sekitar 8 inchi persegi atau 50 cm2 dan dilakukan 5 kali (tempat) sehingga cukup mencapai luas 40 inchi atau 256 cm2 (1 inchi persegi = 0,4 cm2).
12.  Setiap satu kelompok menggunakan 1 lidi kapas sebab yang diusapkan dengan cara seperti pada butir no.11 diatas.
13.  Setelah semua kelompok alat makan atau luas permukaan peralatan masak diusap, kapas lidi dimasukkan ke dalam botol, lidinya dipatahkan atau digunting, dan bibir botol dipanaskan dengan api spritus baru ditutup dengan kapas.
14.  Tempelkan kertas cellotape yang telah dipersiapkan, tulis etiket dengan spidol menyatakan nama alat makan dan tempat yang diambil sampelnya diberi nomor (kode) sesuai dengan lembar/formulir.
15.  Kirimkan segera ke laboratorium dengan suhu dingin untuk diperiksa. Bila tidak dapat dikirim segera, disimpan dalam tempat penyimpanan dingin.

F.     PEMERIKSAAN ANGKA LEMPENG TOTAL
1.      Alat dan bahan :
-     Medium Nutrien Agar
-     Larutan pengencer / NaCl 0,9 %
-     Petridish steril masing-masing 2 buah
-     Lampu spritus / bunsen
-     Korek api
-     Tabung reaksi masing-masing 4 buah
-     Rak kayu
2.      Cara kerja :
-     Siapkan larutan pengencer NaCl 0,9 % sebanyak masing-masing 4 buah petridish yang diberi kode 10-1, 10-2, 10-3, dan kontrol.
-     Ambil 1 ml larutan pengencer NaCl steril dengan kode kontrol dan masukkan kedalam petridish yang juga berkode kontrol.
-     Ambil 1 ml sampel dengan pipet steril dan masukkan ke tabung reaksi dengan kode 10-1 pipet lepas dan tidak boleh ditiup.
-     Pipet 1 ml dari tabung 10-1 dan masukkan kedalam petridish yang berkode 10-1 dan 1 ml sisanya ke tabung 10-2 pipet lepas sebanyak 25 kali atau berkali-kali.
-     Pipet 1 ml dari tabung 10-2 masukkan 1 ml ke petridish yang sudah diberi kode 10-2 dan masukkan ke tabung 10-3 pipet lepas sebanyak 25 kali atau berkali-kali.
-       Pipet 1 ml dari tabung 10-3 masukkan ke dalam petridish yang sudah diberi kode 10-3.
-       Tuangi petridish yang berisi sampel dengan nutrien agar 55°C-56°C sebanyak ±15 ml.
-       Digoyang-goyang agar rata dan biarkan beku
-       Bungkus dengan koran dan petridish dibalik
-       Eramkan pada inkubator dengan suhu 37°C selama 1 × 24 jam

Adapun rumus Angka Lempeng Total (ALT) adalah sebagai berikut :
Rumus ALT = (10-1 – C) x 10 + (10-2 – C) x 100
                                                2

G.    HASIL
1.    Nama Instansi Pelaksana                            : Poltekkes Kemenkes
Makassar Jurusan Kesehatan  Lingkungan
2.    Nama Petugas Pengambil Contoh              : Desminarti Eka Saputri dan
 Irmayanti Faisal
3.    Tanggal Pengambilan                                 : 27 April 2017
4.    Jenis contoh yang diambil                          : 4 buah piring (PR) dan 4
 buah gelas (GL)
5.    Nama TPM                                                 : Aspuri Kesling
6.    Alamat Perusahaan                                     : Jl. Wijaya Kusuma I No.2
7.    Alamat Pembawa/Penyimpanan Contoh    : Jl. Wijaya Kusuma I No.2
8.    Tanggal pengiriman ke laboratorim            : 27 April 2017






Setelah melakukan praktikum usap alat makan di laboratorium, kami mendapatkan hasil :
·      Kontrol                                                       = 3 koloni/cm2
·      Piring (PR)
a.          Pengenceran pertama (PR-1)                = 37 kuman
b.         Pengenceran kedua (PR-2)                   = 26 kuman

 
                     Luas lingkaran =
                                            = 3,14 × 122
                                            = 3,14 × 144
                                            = 452,16 cm2

ALT           = (101 – C) x 10 + (102 – C) x 100
                                      2
= (37-3) x 10 + (26-3) x 100
                                  2
= 340 + 2300
2
= 2640
                2
= 1320 koloni
= 1320 koloni  
    452,16 cm2
= 2,91 koloni/cm2
ALT            = 3 koloni/cm2


·      Gelas (GL)
a.         Pengenceran pertama (GL-1)               = 150 kuman
b.         Pengenceran kedua (GL-2)                  = 52 kuman
ALT          = (10-1 – C) x 10 + (10-2 – C) x 100
                                            2
              = (150-3) × 10 + (52-3) × 100
                                   2
             = 1470 + 4900
                         2
                  = 6370
                        2
ALT         = 3185 koloni/cm2

            Tabel 1. Angka Lempeng Total pada Alat Makan yang Diperiksa
No.
Alat Makan
ALT “Angka Lempeng Total” (koloni/cm2)
1
Piring
3 koloni/cm2
2
Gelas
3185 koloni/cm2


H.    ANALISA HASIL
Berdasarkan praktikum yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Kampus Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar, kami dapat menganalisa bahwa pada sampel piring dengan luas piring yang diperoleh adalah 452,16 cm yang memiliki ALT 3 koloni/cm2 (dalam 1 piring), sementara pada ALT gelas yang diperoleh adalah 3185 koloni/cm2. Hal ini terjadi, kemungkinan besar karena adanya kontaminasi pada saat pemeriksaan dan perlakuan. Maka dapat dilihat bahwa sampel alat makan yang diteliti dapat dikatakan tidak sehat dan tidak layak untuk digunakan oleh masyarakat karena melebihi batas Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1096/MENKES/VI/2011, bahwa alat makan tidak boleh mengandung bakteri lebih dari 0 koloni/cm2.
Dari analisa pengambilan contoh usap alat makan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan banyaknya angka kuman pada alat makan (piring dan gelas), karena :
1.    Tempat penyimpanan peralatan makan yang terbuka dan dekat dengan pintu masuk.
2.    Gelas memiliki angka kuman yang tinggi karena setelah gelas dicuci, tidak dilakukan pengeringan terlebih dahulu ketika sebelum melakukan pengusapan alat makan atau gelasnya tidak di lap, sehingga jumlah kuman pada gelas lebih banyak dibanding dengan jumlah kuman yang terdapat pada piring.
3.    Penggunaan gelas yang dipakai secara bergantian
4.    Penyimpanan gelas yang tidak tergantung/bibir gelas menempel pada rak makan.

I.       KESIMPULAN
Dari hasil dan analisa hasil yang didapatkan pada pemeriksaan usap alat makan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kebersihan dari alat makan yang diperiksa tidak layak dan tidak sehat digunakan untuk alat makan karena tidak memenuhi syarat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1096/MENKES/PER/VI/2011 bahwa alat makan tidak boleh mengandung bakteri lebih dari 0 koloni/cm2. Oleh karena itu, pada proses penyimpanan alat makan sebaiknya perlu diperhatikan tempat penyimpanannya, dimana tempat penyimpanan alat makan tersebut harus tertutup sementara gelas harus bergelantung. Selain itu, pada proses pencucian alat makan harus lebih diperhatikan hygiene dan sanitasi alat makan sampai penyediaan makanan harus bersih. Sehingga jika kita nantinya menjadi petugas, maka kita dapat melakukan pengawasan terhadap alat makan untuk menghindari terjadinya kontaminasi dengan bakteri, serta menjaga lebih baik lagi hygiene dan sanitasi alat makan serta lingkungan sekitar.


Komentar

  1. Kenapa harus menggunakan sarung tangan steril saat melakukan usap alat makan ? Apa sarung tangan bersih tidak cukup ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena sarung tangan steril sangat berperan penting dalam pengambilan sampel usap alat makan dimana sarung tangan steril itu sendiri bersih dari kotoran dan kuman-kuman (mikroorganisme) yang tak terlihat, sedangkan sarung tangan bersih hanya terlihat bersih dari kotoran yang dapat dilihat secara kasat mata :)

      Hapus
  2. apakh kontaminasi yg terjadi pd alat makanan hanya karena saat pemeriksaan? coba jelaskan bgaimana pengaruh air yg digunakan pd saat pembersihan alat makanan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kontaminasi pada alat makan dapat terjadi setiap saat, salah satunya dari peralatan makanan yang digunakan tidak memenuhi syarat kesehatan. Untuk itu, setiap peralatan makan harus selalu dijaga kebersihannya setiap saat digunakan dan pencucian peralatan sangat penting diketahui secara mendasar, dengan pencucian secara baik akan menghasilkan peralatan yang bersih dan sehat pula. Dengan menjaga kebersihan peralatan makan (piring, gelas, dll) berarti telah membantu mencegah pencemaran atau kontaminasi makanan yang dikonsumsi.
      Air sangat berperan penting dalam proses pencucian alat makan. Oleh karena itu, pada saat melakukan pencucian pada peralatan makan sebaiknya menggunakan air panas dengan cara direndam karena dapat membunuh bakteri dengan maksimal. Namun, pembersihan ini juga tetap harus diiringi dengan pembersihan menggunakan detergen cair atau bubuk dan air mengalir.

      Hapus
  3. apakh kontaminasi yg terjadi pd alat makanan hanya karena saat pemeriksaan? coba jelaskan bgaimana pengaruh air yg digunakan pd saat pembersihan alat makanan?

    BalasHapus
  4. Laporannya sda ckup bagus, smoga ditingkatkan lg k depanx .

    BalasHapus
  5. Apakah ada Faktor lain yang memungkinkan banyaknya angka kuman pada alat makan secara umum?

    BalasHapus
  6. Apakah peralatan yh digunakan itu steril

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, peralatan alat makan yang digunakan harus steril. Karena jika kita menggunakan peralatan makan yang tidak steril maka dapat menimbulkan keracunan makanan akibat adanya kuman yang terdapat pada alat makan tersebut. Oleh karena itu, pada saat melakukan pencucian peralatan makan harus diperhatikan dengan baik hygiene dan sanitasinya.

      Hapus
  7. Apakah peralatan yh digunakan itu steril

    BalasHapus

Posting Komentar